Keamanan Informasi
Tentang Malware: Pengertian, Tujuan, Cara Penyebaran, dan Pengendaliannya

Malware dapat mengganggu operasional perusahaan, merusak atau mengenkripsi data, hingga membuka akses tidak sah ke sistem informasi. Ketika satu perangkat terinfeksi, dampaknya tidak selalu berhenti pada komputer tersebut. Insiden dapat merambat ke akun, file bersama, server, atau layanan yang dibutuhkan untuk menjalankan bisnis.
Karena itu, pengendalian malware tidak cukup dilakukan dengan memasang antivirus. Perusahaan perlu menggabungkan pencegahan, deteksi, pembatasan dampak, pemulihan, serta kesadaran pengguna. Artikel ini membahas terkait malware, jalur penyebarannya, serta cara mengelola risikonya dalam lingkungan perusahaan termasuk kaitannya dengan ISO/IEC 27001:2022.
Apa Itu Malware?
Apa itu malware? Malware (malicious software) adalah perangkat lunak dengan kode berbahaya yang dibuat dengan tujuan memasuki dan merusak sistem komputer, jaringan, atau server tanpa diketahui oleh pemiliknya. Tujuannya dapat berupa mencuri data, memata-matai aktivitas, membuka akses tanpa izin, mengganggu layanan, merusak file, atau mengenkripsi data untuk pemerasan.
Malware bukan jenis ancaman yang terpisah dari virus atau Trojan. Malware merupakan istilah umum yang mencakup berbagai jenis perangkat lunak berbahaya, termasuk virus, worm, Trojan, ransomware, dan spyware. Istilah-istilah tersebut menjelaskan karakteristik atau cara kerja yang berbeda.
Dampak malware juga dipengaruhi oleh hak akses yang dimiliki pengguna, sistem yang terhubung, sensitivitas informasi, efektivitas kontrol keamanan, dan kecepatan tim merespons indikasi insiden.
Apa Tujuan Malware Dibuat?
Tujuan malware bergantung pada motif pelaku dan cara malware digunakan. Tidak semua malware bekerja dengan cara yang sama: sebagian berusaha mengambil informasi, mengganggu sistem, sedangkan yang lain memberikan akses kepada pelaku untuk melakukan tindakan lanjutan.
- Mencuri informasi: Malware dapat digunakan untuk memperoleh kredensial, data pelanggan, dokumen internal, atau informasi bisnis yang sensitif.
- Memata-matai aktivitas: Jenis tertentu dapat mengumpulkan informasi tentang perilaku pengguna atau aktivitas pada perangkat yang terinfeksi.
- Memperoleh akses tanpa izin: Malware tertentu dapat membuka jalur akses yang memungkinkan pelaku berinteraksi dengan sistem korban.
- Memeras korban: Ransomware dapat mengenkripsi atau mengunci data, sementara pelaku menuntut pembayaran atau mengancam membocorkan informasi yang dicuri.
- Merusak atau mengganggu sistem: Sebagian malware dapat menghapus atau mengubah file, mengganggu aplikasi, atau menggunakan sumber daya perangkat tanpa izin.
- Menjadi bagian dari serangan yang lebih luas: Perangkat terinfeksi dapat dimanfaatkan untuk menyebarkan ancaman, menjalankan aktivitas lain, atau menjadi bagian dari infrastruktur serangan.
Bagi perusahaan, memahami tujuan ini membantu menentukan prioritas perlindungan secara tepat dan profesional. Jika sistem menyimpan informasi sensitif, misalnya, pengendalian akses dan pemantauan aktivitas menjadi sama pentingnya dengan perlindungan endpoint. Jika proses bisnis sangat bergantung pada ketersediaan sistem, backup dan pengujian pemulihan perlu mendapat perhatian khusus. Baca juga ulasan kami terkait jenis kejahatan siber.
Melalui Media Apa Malware Disebarkan?
Malware dapat mneyebar dan masuk melalui sejumlah jalur digital. Perusahaan sebaiknya mengidentifikasi jalur yang paling relevan dengan penggunaan perangkat, aplikasi, dan proses bisnisnya berikut penjelasannya:
1. Email phising dan lampiran file berbahaya
Pesan dapat menyamar sebagai invoice, dokumen kerja, pemberitahuan pengiriman, atau komunikasi vendor. Tautan atau lampiran di dalamnya dapat mengarahkan pengguna ke halaman berbahaya atau membuat kode berbahaya berjalan ketika file dibuka. Karyawan perlu memeriksa konteks pesan dan melaporkan permintaan yang tidak biasa melalui kanal resmi.
2. Unduhan dan Software yang Tidak Terpercaya
Installer palsu, software bajakan, atau aplikasi dari sumber yang tidak dapat diverifikasi dapat membawa kode berbahaya. Membatasi instalasi ke software yang disetujui dan meninjau kebutuhan aplikasi membantu mengurangi risiko tersebut.
3. Situs Web atau Tautan Berbahaya
Tautan tertentu dapat mengarah ke situs yang mencoba mengeksploitasi kerentanan atau memanipulasi pengguna agar mengunduh dan menjalankan file. Penyaringan web dan pembaruan browser dapat menjadi bagian dari kontrol pencegahan.
4. Kerentanan pada Sistem dan Aplikasi
Sistem yang tidak mendapatkan pembaruan keamanan dapat memiliki celah yang dimanfaatkan penyerang. Pembaruan perlu diprioritaskan berdasarkan tingkat risiko, keterpaparan sistem, dan dampak terhadap proses bisnis.
5. Perangkat Eksternal dan Pertukaran File
Media penyimpanan eksternal atau file yang dipindahkan dari perangkat lain dapat membawa malware. Terapkan aturan penggunaan media eksternal dan pemeriksaan file yang sesuai dengan profil risiko organisasi.
6. Akun atau Akses yang Telah Disusupi
Kredensial yang dicuri dapat digunakan untuk mengakses layanan, ruang penyimpanan, atau sistem internal. Akses tersebut dapat dimanfaatkan untuk menjalankan aktivitas berbahaya atau menyebarkan malware lebih jauh. Karena itu, perlindungan akun, autentikasi yang kuat, dan peninjauan hak akses juga menjadi bagian dari pengendalian.
Jenis Malware dan Dampaknya
Malware memiliki berbagai jenis karakteristik berbeda begitu juga dengan dampaknya seperti pada tabel berikut:
Satu insiden dapat melibatkan beberapa teknik atau tahapan serangan. Karena itu, nama malware saja tidak cukup untuk menentukan tingkat keparahan. Tim yang menangani insiden perlu menilai perangkat dan akun yang terlibat, data yang mungkin terakses, kemungkinan penyebaran, serta proses bisnis yang terganggu.
Apa saja Dampak Serangan Malware bagi Perusahaan?
Dampak malware dapat dinilai melalui tiga aspek utama keamanan informasi: kerahasiaan, integritas, dan ketersediaan. Ketiganya membantu perusahaan memahami akibat insiden terhadap data dan operasional.
- Kerahasiaan: informasi dapat diakses atau diambil oleh pihak yang tidak berwenang.
- Integritas: file, catatan transaksi, konfigurasi, atau data dapat diubah sehingga keandalannya menurun.
- Ketersediaan: perangkat, aplikasi, atau layanan dapat tidak berfungsi ketika dibutuhkan.
Dampak lanjutan bisa mencakup penghentian sementara proses kerja, biaya investigasi dan pemulihan, keterlambatan layanan, serta berkurangnya kepercayaan pelanggan atau mitra. Tingkat dampak harus dinilai berdasarkan aset dan proses yang benar-benar terdampak, bukan hanya jumlah perangkat yang terinfeksi.
Ciri-ciri Perangkat yang Terinfeksi Malware
Tanda berikut dapat menjadi alasan untuk melakukan pemeriksaan, tetapi tidak satu pun merupakan bukti pasti bahwa perangkat telah terdeteksi malware:
- Perangkat menjadi lambat atau penggunaan sumber daya meningkat tanpa sebab yang jelas.
- Muncul peringatan keamanan, aplikasi, ekstensi, atau proses yang tidak dikenali.
- File berubah, hilang, tidak dapat dibuka, atau memiliki ekstensi yang tidak biasa.
- Terjadi aktivitas jaringan atau penggunaan akun yang tidak sesuai pola normal.
- Pengguna menemukan pesan pemerasan, pengalihan browser yang tidak diharapkan, atau perubahan pengaturan tanpa persetujuan.
Jika menemukan gejala tersebut, laporkan ke tim IT/Security atau penanggung jawab yang ditunjuk. Hindari mengunduh alat pembersih dari sumber yang tidak jelas atau menghapus bukti sebelum mendapat arahan.
Cara Mengatasi dan Mengendalikan Serangan Malware
Dalam konteks sebuah bisnis perusahaan, malware perlu dilakukan pengendalian secara profesional untuk meminimalisir dampak kerugian.
1. Inventarisasi Pernagkat dan Sistem
Catat perangkat, server, sistem operasi, aplikasi penting, pemilik aset, dan status dukungan pembaruannya. Inventaris membantu organisasi mengetahui aset yang harus dilindungi serta mengidentifikasi perangkat yang luput dari pengelolaan terpusat.
2. Terapkan Perlindungan Endpoint yang Sesuai
Gunakan fitur anti-malware atau endpoint protection yang sesuai dengan kebutuhan organisasi. Pastikan cakupan perangkat diketahui, pembaruan berjalan, konfigurasi ditinjau, dan peringatan ditindaklanjuti. Produk keamanan mengurangi risiko, tetapi tidak menjamin semua ancaman akan terdeteksi atau diblokir.
3. Kelola Pembaruan Keamanan
Buat proses untuk mengidentifikasi, memprioritaskan, menguji bila diperlukan, dan memasang pembaruan keamanan. Jika pembaruan tertunda karena alasan operasional, dokumentasikan pengecualian, risiko, kontrol sementara, dan rencana penyelesaiannya.
4. Batasi Hak Akses dan Instalasi Software
Terapkan prinsip least privilege: pengguna hanya memperoleh hak yang diperlukan untuk pekerjaannya. Tetapkan proses persetujuan instalasi, tinjau akses administratif, dan cabut akses ketika sudah tidak dibutuhkan. Langkah ini membantu membatasi peluang dan dampak penyalahgunaan akun.
5. Amankan email dan Bangun Kesadaran Pengguna
Gunakan penyaringan email dan lampiran sesuai risiko, sediakan kanal pelaporan yang mudah, dan latih karyawan mengenali pesan serta file mencurigakan. Program kesadaran sebaiknya teratur dan terukur, serta tidak berfokus pada menyalahkan pengguna saat mereka melaporkan dugaan insiden.
6. Lindungi Backup dan Uji Pemulihan
Tentukan data yang harus dicadangkan, jadwal dan retensinya, pihak yang dapat mengakses backup, serta cara memulihkan data. Pisahkan atau lindungi salinan backup dari lingkungan utama sesuai risiko. Uji pemulihan berkala untuk memastikan data dapat digunakan kembali; status “backup berhasil” saja belum membuktikan pemulihan berjalan efektif.
7. Siapkan Prosedur Respons Insiden
Tetapkan cara pengguna melaporkan kejadian, siapa yang berwenang melakukan isolasi, bagaimana insiden dinilai, siapa yang mengoordinasikan pemulihan, dan bagaimana keputusan dicatat. Prosedur harus disesuaikan dengan ukuran organisasi, kompleksitas sistem, dan tingkat risiko.
Tindakan yang Perlu Dilakukan Jika Malware Diduga Menginfeksi Perangkat
Respons yang terkoordinasi membantu mengurangi penyebaran dan menjaga proses investigasi. Pengguna sebaiknya mengikuti prosedur internal dan tidak melakukan tindakan teknis di luar kewenangannya.
- Laporkan kejadian melalui kanal resmi kepada IT/Security atau penanggung jawab insiden. Sertakan waktu kejadian, gejala, perangkat, dan aktivitas terakhir yang relevan.
- Isolasi perangkat terdampak dari jaringan jika diperlukan untuk membatasi penyebaran, sesuai prosedur dan arahan personel yang berwenang. Jika beberapa sistem terlibat, tim respons perlu mempertimbangkan tindakan pada segmen jaringan yang terdampak.
- Identifikasi cakupan insiden: perangkat, akun, data, sistem, dan layanan yang mungkin terdampak. Periksa kemungkinan penyalahgunaan kredensial atau akses ke file bersama.
- Lakukan containment, pembersihan, atau pembangunan ulang sistem melalui personel yang kompeten. Jangan langsung menghapus file yang dicurigai atau menginstal alat pembersih dari sumber tak dikenal.
- Pulihkan data dari backup yang telah dipastikan aman. Sebelum sistem dihubungkan kembali, periksa penyebab awal, kerentanan, konfigurasi, dan kontrol yang perlu diperbaiki.
- Dokumentasikan kronologi, keputusan, dampak, dan tindakan korektif. Lakukan evaluasi pascainsiden agar temuan menjadi dasar perbaikan kontrol dan prosedur.
Jika insiden berpotensi melibatkan data pribadi, informasi pelanggan, atau kewajiban kontraktual, libatkan fungsi legal/compliance dan manajemen sesuai prosedur perusahaan.
Pengendalian Malware dalam ISO/IEC 27001:2022
ISO/IEC 27001:2022 menetapkan persyaratan untuk membangun, menerapkan, memelihara, dan meningkatkan Sistem Manajemen Keamanan Informasi (SMKI/ISMS) berbasis risiko. Informasi resmi tersedia pada situs ISO.
Dalam Annex A ISO/IEC 27001:2022, kontrol 8.7 berjudul Protection against malware. Penerapannya perlu dikaitkan dengan kesadaran pengguna, prosedur operasional, respons insiden, dan evaluasi efektivitas. Rujuk naskah standar resmi untuk detailnya.
Memasang satu produk keamanan tidak otomatis memenuhi seluruh kebutuhan pengendalian malware. Pilihan kontrol perlu mempertimbangkan risiko, konteks organisasi, perlakuan risiko, dan alasan yang dicatat dalam Statement of Applicability (SoA).
Matriks Implementasi: Dari Kontrol Menjadi Bukti
Agar pengendalian malware tidak berhenti sebagai daftar rekomendasi, perusahaan dapat menerjemahkan kontrol menjadi pemilik tindakan dan bukti yang dapat diperiksa. Contoh pada tabel berikut ini perlu disesuaikan dengan struktur organisasi dan tingkat risikonya.
Kesimpulan: Pengendalian Malware Harus Dikelola sebagai Proses
Malware dapat menyerang melalui berbagai jalur dan menimbulkan dampak terhadap kerahasiaan, integritas, maupun ketersediaan informasi. Karena itu, perusahaan perlu menggabungkan perlindungan endpoint dengan inventaris aset, pembaruan keamanan, pengelolaan akses, backup, kesadaran pengguna, dan respons insiden yang terkoordinasi.
Ingin mengevaluasi pengendalian keamanan informasi di perusahaan Anda? Mitra Berdaya Optima membantu organisasi memahami kebutuhan sistem manajemen, mengidentifikasi gap, dan menyusun langkah implementasi yang relevan dengan risiko bisnis. Pelajari layanan konsultasi ISO atau layanan IT Assessment untuk mendiskusikan kebutuhan perusahaan Anda.
